Wednesday, 8 February 2023

[tujuh puluh] what people like, what people don't like

Suka dan tidak suka, lumrah, namanya juga manusia

Kadang-kadang saya suka berpikir kenapa ya orang tidak suka ini, kenapa orang tidak suka itu. Padahal ini kan begini dan itu kan begitu. Kenapa berpikir demikian? Apakah saya tidak punya hal yang tidak saya sukai? Punya juga, tapi  mungkin suka lupa wkwkkw

Padahal kalau dipikir-pikir, mungkin saya tidak suka makan hati (arti harfiah yaitu organ pada hewan yang bisa dimakan wkwwk) sama dengan orang lain tidak suka jalan kaki. Atau saya (sangat) suka diam di kamar, sama dengan orang lain yang (sangat suka) K-Pop. Objek bisa berbeda, tapi rasanya sama. 

Tidak harus apa yang kita suka, orang lain juga suka.
Tidak harus apa yang orang lain suka, kita juga suka.
Pun, tidak harus apa yang kita tidak suka, orang lain juga tidak suka.
Tidak harus apa yang orang lain tidak suka, kita juga tidak suka.
Begitu loh mil wkwkwk

Bingung mau nulis apa, kok gitu ya, padahal pas mikir lancar, pas mau nulis bingung hahhhaaa kek mana lah

Lanjut, oh iya, pernah baca di suatu buku, kalau orang itu bisa terbagi menjadi 2, *saya nyontek dulu ya wkwkw*, jadi, ada dua jenis mentalitas (disorders of responsibility namanya, baca dari buku The Road Less Traveled, minjem punya temen, belum habis dibaca wkwkwk tidak penting ya infonya hehhee). Yang pertama namanya neurosis disorder yaitu kecenderungan menyalahkan dirinya sendiri atas suatu kondisi atau konflik. Yang kedua namanya character disorder yaitu kecenderungan menyalahkan "dunia" atau pihak luar atas suatu kondisi atau konflik. 

Kenapa bahas itu?

Memang tidak berkaitan langsung dan konteks pembahasannya berbeda, tetapi menurut cocoklogi sotta saya, respon (atau entah apalah namanya) terhadap apa yang kita suka dan apa yang kita tidak suka itu biasanya mirip-mirip dengan disorder itu. Maksudnya adalah, misalnya ketika kita tidak suka sesuatu, we tend to put the blame on that thing. Ketika kita tidak suka 'itu', berarti 'itu' yang salah. Misalnya, saya gak suka K-Pop karena si boyband/girlband Korea nya tuh bgini bgini, karena lagunya tuh begini begini. Tapi, ndak pernah atau jarang sekali misalnya saya bilang saya gak suka K-Pop karena saya nda tau main musik atau karena saya telinganya lain daripada yang lain wkwkkw Iya nda sih? Tapi, kalau kita suka sesuatu, kita ini yang benar. Misalnya, saya suka main game karena gamenya seru, menantang, dll. Kalau orang gak suka, salahnya di orang itu, bukan di game atau di sayanya. Bagaimana ya hahaha bingung mendeskripsikannya heuheuheuuu. Nanti coba kupikir lagi ya hahahhaa maksudnya tuh bisa se-beda itu kecenderungan sudut pandangnya ketika kita suka atau tidak suka. Padahal kita membicarakan sesuatu dalam konteks yang sama dan sepadan tapi kita bisa beda. Cenderung ya berarti gak selalu dan gak semua. Ini menurut saya saja atau setidaknya yang sering saya pikirkan wwkwkw. 

Ya begitulah, abaikan saja kalau bikin bingung pemirsa hahahaa

Seperti saya tulis pada kalimat pertama, rasa suka dan tidak suka itu lumrah dan manusiawi. Kita masih manusia dan kita masih di dunia, pasti ada hal yang kita suka dan ada yang kita suka. Kita selalu mencari yang kita suka, menghindari yang kita tidak suka. Mencari tempat makan yang menyediakan lebih banyak makanan yang kita suka daripada yang tidak kita suka. Mencari tempat kerja yang lebih banyak hal yang kita suka daripada yang kita tidak suka. Dan seterusnya.

Pada dasarnya, kita semua dalam pencarian, yang tiada akhir. Mencari yang kita suka, menghindari yang kita tidak suka. Tanpa kita sadari, kita hanya akan terus mencari. 

Mengapa?
Karena, kita masih di dunia, tidak mungkin ada yang suatu hal yang kita suka tanpa didampingi dengan yang tidak kita suka. 
Karena, bisa jadi, apa yang kita suka hari ini, menjadi apa yang kita tidak suka nantinya. Dan juga, bisa jadi, apa yang kita tidak suka hari ini, menjadi apa yang kita suka nantinya.

We commonly say people do change, tapi tanpa sadar ditujukan ke orang lain. Padahal, we are people, too. We do change, too. Bisa jadi bukan karena objeknya yang berubah, tapi karena kitanya yang berubah. Rasa suka, tidak suka, terlalu dinamis wkkwkw dan pastinya, selalu ada. Namanya juga hidup wkwkkww

Ujungnya? Cuma dua mungkin, menemukan yang kita suka, atau menyesuaikan dengan apa yang ada (biasanya sih lebih ke yang tidak suka).

Kenapa di awal saya bilang saya suka berpikir kenapa orang bisa tidak suka ini dan itu? Mungkin seringnya saya memilih menyesuaikan daripada mencari dan menemukan. Malas sih lu mil wkkwkwk. Mungkin itu sekarang, nantinya tidak ada yang tau. 

Suka dan tidak suka, toh hanyalah perasaan, bukan kebenaran.

Apa konklusyen? Takde konklusyen wakwakwak.

Cuma ingin berbagi pikiran saja. Tarik sendiri saja kesimpulannya. Kalau ga bisa ditarik, mungkin tulisannya PUSH. Hehehee. Dah yaaaa wkkwkw

Sampai ketemu di [tujuh puluh satu],

Cheers,

Em🙆

Saturday, 4 February 2023

[enam puluh sembilan] the impermanence, it is

It was a very very good day, with a very good good plan, and in a very moment, everything change. That's the impermanence. 

We are (I am) a naive human. Coming up with thousand of plans, which is kinda normal. But, at some certain point, we are blind. Blind with something that might happen, something unexpected. However, that's again, the impermanence.

You know what, in a very very eazy peazy way, life can turn you upside down. Karma happens every single moment in our life. Each and every moment. Moment by moment. Good and bad things happen. 

Born, sick, aging, death, are absolute things in life. And after a fine morning with hot porridge and good laugh, here comes a kinda rough afternoon with back pain that comes unexpectedly but fortunately, still with good food wkwkwkw

All these things, again, make me think, (but still not making me realize), how easy, really, things change. Now and then, can be a totally different condition. And how human beings, we are, I am, are easily broken. Sick makes us not able to do anything. Even small things sometimes. 

Impermanence is real, kicks you in the ass, you know it, but not yet realize it.

It's the truth. 

Berjuang.

See you at [tujuh puluh]

Cheers,

Em🙆