Friday, 12 March 2021

[tiga puluh sembilan] Berbahagia setelah kehilangan. Gimana gimana??

 Hantaman keras adalah pelajaran berharga

-eug-

 

Produktif, produktif euyyy wkwkw padahal lagi gabut aja.. Semoga teman-teman tetap sehat dan produktif (seperti saya) tapi tidak gabut (juga seperti saya) hehehehee


11 tahun lalu, pertama kali saya kehilangan orang dalam circle terdekat saya setelah 15 tahun hidup saya. Setelah 15 tahun hidup tanpa pernah hadir dan melihat rumah duka itu seperti apa, so itu pertama kali. 1 tahun setelahnya, kehilangan kedua saya, terberat rasanya, saat itu saya masih 16 tahun. Lalu, satu setengah tahun yang lalu, kehilangan yang sama beratnya, kalau kata ter- tidak hanya untuk satu hal saja, maka untuk dua kehilangan saya ini, sepuluh tahun dan satu setengah tahun yang lalu adalah yang terberat. 

Lalu apa?

Sering saya merenung dan berpikir, seberapa jauh saya mengikhlaskan, seberapa jauh saya menyesali, dan seberapa jauh saya belajar dari kehilangan tersebut. Seberapa jauh saya mengikhlaskan adalah seberapa banyak hal yang saya syukuri telah saya lakukan sebelum saya kehilangan. Seberapa jauh saya menyesali adalah seberapa banyak hal yang saya harap bisa saya lakukan sebelum saya kehilangan. Seberapa jauh saya belajar adalah seberapa banyak hal yang saya harap bisa saya lakukan dulu dan saya lakukan itu sekarang. Hingga di satu titik dimana saya berpikir dan saya syukuri adalah bahwa meskipun ada hal-hal yang saya sesali, tapi untungnya masih lebih banyak hal yang membuat saya mengikhlaskan. 

Apa yang sebenarnya dirasakan ketika kita kehilangan? Khususnya kehilangan orang terdekat

Sedih. Sesak mungkin lebih tepat. Rasa sesaknya sama, masih jelas di ingatan saya. Tapi ya, lumrah lah ya. Semua orang juga pasti merasakan hal yang sama. Tapi semua adalah temporary, sesaat. Setelah itu life must still go on. Kita harus tetap melihat ke depan. 

Lalu apa yang dimaksud berbahagia setelah kehilangan? Seperti judul di atas wkwkw

Sering sekali ya kalau lagi gabut alias gak ngapa-ngapain sering aja gitu kepikiran ketiga hal di atas tadi, seberapa jauh saya mengikhlaskan, menyesali, dan belajar. Dan ketika saya belajar, di situlah 'berbahagia setelah kehilangan' bisa dimunculkan. Saya jadi tau bahwa ada loh hal-hal yang mungkin saya sesali 'kenapa ya tidak saya lakukan dulu' (sebelum saya kehilangan), bisa saya lakukan sekarang yang membuat saya bahagia. Hal ini semacam menghindari adanya penyesalan berikutnya hahahaaaa Tapi kalau dipikir-pikir lagi, ya memang ada hal-hal yang dulu memang tidak bisa kita lakukan, mungkin karena keterbatasan kondisi atau hal lainnya, ya semacam memang gak bisa aja dilakukan pada saat itu. Dan mungkin sekarang waktu yang tepat untuk melakukan itu.

Setelah mengalami beberapa kehilangan, kita (saya) juga menjadi lebih belajar. Mungkin ada hal-hal yang dulu kita 'take for granted', kita anggap sebagai hal yang remeh, tapi sebenarnya itu hal-hal berharga yang baru kita sadari sekarang. Makanya, ketika kita sadari itu, kita lebih menghargai hal itu sekarang, kita jadi lebih bahagia, kita lebih 'fulfilled' untuk hal-hal yang kita lakukan dan yang kita alami. Selain itu, kalau teman-teman baca postingan saya yang judulnya 'gone too soon', mungkin juga ada hal-hal yang seperti itu, mungkin hal-hal yang kita sesali itu memang tidak terjadi dulu karena memang belum waktunya sama seperti yang saya tulis di situ. Jadi, mungkin tidak perlu terlalu disesali, yang penting untuk selalu belajar. 

Jadi, berbahagia setelah kehilangan berbeda dengan berbahagia karena kehilangan atau berbahagia atas kehilangan. Menurut saya pribadi, mungkin 'berbahagia setelah kehilangan' adalah bentuk 'penebusan rasa penyesalan' (mungkin terlalu berlebihan hahahaha) atau bentuk 'upgrading atau naik kelas' atau apa ya cara kita lebih menghargai waktu mungkin, sehingga kita lebih bahagia. I lost for words hhahaa kagak tau apa kata yang tepat guis ckckkck mungkin seperti ini, lebih ke perasaan yang 'wah akhirnya saya bisa melakukan hal ini ya, hal yang mungkin seharusnya saya lakukan dulu, untung masih sempat saya lakukan sekarang, dan saya bahagia karena sudah melakukannya dan juga bahagia untuk dampak yang terjadi atas hal yang saya lakukan itu'. Kurang lebih bahagia seperti itu. 

Don't know hahhaaa demikian yang bisa saya bagikan kali ini, sangat personal kali ini sepertinya, entah semua orang merasakan nya juga apa cuma saya saja. Tapi intinya selalu ada yang bisa kita ambil sebagai pelajaran. Apalagi dari suatu hal yang sungguh berat, pasti ada pelajaran besar di baliknya. Bagi saya, kehilangan adalah hantaman terbesar sejauh ini dan dari itu banyak sekali hal yang saya pelajari, untuk saya terhadap diri saya sendiri dan untuk saya terhadap orang lain di sekitar saya. 

Jadi begitulah ya..

Semoga berguna hehee

Sampai ketemu di [empat puluh]

Cheers,

Em 🙆

[tiga puluh delapan] totem pro parte, pars pro toto

Semua untuk satu, satu untuk semua

-(kayak) jargon tipi wkwk-

 

Demikianlah kiranya yang cukup sering kita dengar, bahkan kita lakukan. Sadar tidak sadar, tapi ya memang demikian. Agak bias ya judulnya hahahaa.. Anyway, sebelum lanjut, seperti biasa, semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat, tenteram dan bahagia ya

Alright, 

Secara sadar atau tidak sadar, kita sering melakukan salah satu diantara keduanya ini (bahkan kedua-duanya), yaitu menjadikan sesuatu (satu) hal sebagai patokan atau mewakili semuanyaa dan/atau menjadikan sesuatu yang umum ke satu hal tertentu alias men-general-kan alias memukul rata. Agak ribet ye wkwkkw

Contohnyaaa biar kagak pusing kita hahaha

Contoh paling gampang mungkin kalau kita ketemu seseorang, karena ini yang sering kita temui sehari-hari bertemu orang yang berbeda-beda. Nah, misalnya kita ketemu seseorang dari negara tertentu, (kalau sebut suku atau negaranya nanti dibilang rasis hahahaa), dia adalah orang pertama dari negara tersebut yang kita temui, sebelumnya kita belum pernah ketemu orang negara tersebut. Ternyata, orang itu pelit. Berangkat dari pertemuan itu, saat lain waktu kita bertemu orang dari negara yang sama, seperti sudah terpatri di otak kita 'wah pelit ni pasti' wkwkwk itu untuk yang satu untuk semua.. Padahal ya belum tentu orang itu pelit juga khaan hahhaaa

Kalau yang semua untuk satu itu misalnya gini, kita ketemu seseorang dari negara Indonesia, karena saya juga dari Indonesia, maka di pikiran saya, pasti bisa bahasa Indonesia dong, karena semua orang Indonesia harusnya dan pastinya tau bahasa Indonesia. Tapi ternyata, orang itu ga bisa bahasa Indonesia dong, meskipun dia orang Indonesia, KTP Indonesia. Hm, okaii..

Saya sendiri sering sekali seperti itu, men-general-kan semua orang karena satu orang dan menganggap satu orang itu sama dengan semua orang lainnya. Dari kejadian-kejadian kecil itu, saya jadi berpikir bahwa sebenarnya pikiran kita sendiri yang  membentuk citra orang lain, bukannya orang tersebut. Kita sendiri yang sok tau menjudge setiap orang dari hal-hal yang kita alami sebelumnya, Padahal, setiap orang itu berbeda, setiap perjumpaan atau setiap hal yang kita alami, meskipun identik, tapi tidak sepenuhnya sama dan tidak semestinya kita menghakimi duluan sebelum benar-benar mengalaminya. Kenapa begitu? Soalnya, tidak jarang sikap kita itu ditentukan oleh apa yang sudah kita judge kepada orang lain. Misalnya, ke orang yang kita sangka pelit itu, orangnya belum ngapa-ngapain kita sudah tidak ramah karena di otak kita dia ni pelit nii, malas aku. Padahal kan ya belum tentu juga wkwkkwwk

Jadi gitu ya, 

Gak panjang-panjang lah kali ini, hanya sebagai pengingat buat saya saja, biar ingat dan belajar untuk tidak menentukan sesuatu sebelum sesuatu itu terjadi, biar gak kaget juga hahhaaa

Jadi benar kata orang bahwa don't judge the book by its cover, mungkin saja dari 10 cover yang ilustrasinya jelek, 8 ceritanya tidak menarik, 2 ceritanya menarik. Kasian yang 2 buku ini, kasian juga kitanya yang tidak membaca cerita yang bagus hanya karena kita sudah misjudge dari covernya.

Meskipun menarik tidaknya suatu buku juga relatif ya (eh gimana)

Ya udah ya wkwkkw

Sampai ketemu di [tiga puluh sembilan]

Stay safe!

Cheers,

Em 🙆