disclaimer: tulisan ini bukan berarti menganggap remeh isu mental health yang sangat penting untuk kita sebagai manusia, selain itu, ini hanya semata-mata opini saya pribadi. Terima kasih :)
Halo.. haloo.. semuanyaaaa..
Yap, mungkin postingan kali ini cukup kontroversial yaaa hahahhaaa, tapi saya hanya ingin mengutarakan pendapat saja tanpa berniat untuk menyinggung pihak mana pun, so let's start..
Jadi belakangan ini, issue mental health sedang marak-maraknya diperbincangkan dan disosialisasikan. Menarik sekali, bahwa hal yang tidak menjadi prioritas bahkan tidak ada di zaman kakek nenek kita atau bahkan orang tua kita malah menjadi hal yang penting untuk manusia di zaman kita sekarang. Sangat setuju, bahwa kesehatan itu bukan hanya fisik, tapi sehat secara mental juga tidak kalah penting, bahkan mungkin jauh lebih penting. Orang mungkin bisa saja sakit secara fisik, tapi sakit nya itu mungkin bisa lebih ringan jika mentalnya sehat. Jadi, mental health merupakan suatu concern yang penting dan sangat tepat jika sering disosialisasikan di zaman sekarang ini. Khususnya di zaman sekarang ini, semua perubahan terjadi begitu cepat, ditambah lagi kondisi pandemi ini, orang-orang banyak yang lebih mudah stres dan lain-lain. Oleh karena itu, saya sangat sependapat bahwa sangat penting untuk menjaga mental heatlh kita sebagai seorang manusia jika ingin tetap waras dan produktif.
However kkwkwkw
Unfortunately .... hehhee..
Ya, akan tetapi, yang sering terjadi bahwa, ketika sesuatu digaungkan terlalu kencang, kadang-kadang malah menjadi berlebihan alias overrated. Menurut saya pribadi (sekali lagi, menurut saya pribadi wkwk) mental health issues ini sudah mulai mengarah ke overrated, mirip pada kasus passion (mungkin bisa dibahas lain kali) wkwkkw semua orang men'dewa'kan passsion dalam kehidupan ini. Mirip dengan itu, mental health juga seperti sudah mulai melenceng dari apa yang seharusnya. Banyak diskusi-diskusi atau pandangan-pandangan yang melihat bahwa kesehatan mental itu adalah segalanya.
Hati-hati..
Menurut saya, mental health atau kesehatan mental itu agak mirip-mirip dengan hak asasi. Namanya juga hak asasi atau hak dasar, maka setiap orang bisa memperjuangkan hak tersebut. Akan tetapi, poin pentingnya di sini adalah janganlah kita menuntut hak kita tapi merampas hak orang lain. Setiap orang punya hak untuk hidup tapi bukan berarti mencuri itu dibolehkan. Mengapa? Karena semua orang juga punya hak untuk hidup aman. Maybe not a good example, tapi simpelnya seperti itu, ilmu saya masih terbatas hahahaaa. Sekarang mari kita lihat dengan kesehatan mental. Masalah kesehatan mental ini luas sekali ya, dan karena saya bukan expert, saya coba memberi contoh dan pandangan secara umum saja, yang sering saya alami. Jadi, misalnya kayak kalau kita lagi stres, lagi bete, malas ngomong atau gak mau ketemu orang-orang, gak papa untuk diam. Di satu sisi benar, tapi di sisi lain jangan sampai itu menjadi 'excuse' untuk pukul rata semua kondisi. Orang ramah dengan kita, tapi kitanya ketus, kan dia jadi heran. Atau, mungkin ada orang yang juga mengalami hal yang sama bahkan lebih buruk kondisinya dari kita, kita tidak tahu, trus kita misalnya menyinggung dia karena kita tidak bisa mengontrol perkataan kita. Trus, kita bilang 'kan saya tidak tahu? saya lagi banyak masalah'. Lha, kan dianya juga tidak tahu anda sedang banyak masalah? Orang dia juga lagi banyak masalah wkwkwkw kira-kira begitu yaa. Ya, memang tidak bisa dipungkiri juga bahwa mungkin kadar toleransi stres masing-masing orang berbeda. Tapi, let's not make any 'pembenaran' untuk diri kita di sini dengan menutup mata dengan kondisi orang lain. At least, for me personally, it's not how it works.
Penting untuk tetap waras, tapi melakukan segala cara untuk tetap waras pun sepertinya kurang bijaksana. Kita hidup saling terkoneksi satu dengan yang lain, bukan cuma kita, bukan. Lagipula, apakah kita bisa waras kalau kita mengorbankan hak orang lain untuk waras juga? And, some people say 'kadang-kadang kita perlu masa bodoh dengan orang lain'. Ya, setuju, cukup setuju, tapi masa bodoh dengan tidak merugikan orang lain. Masa bodoh dengan orang lain bukan berarti melalaikan tanggung jawab kita. Misalnya atas nama kesehatan mental, jadi mogok kerja wkwkk jangan yaaa hahahaa itu namanya bukan mental health, itu lebih ke 'I can't handle this, I quit' which is not for the sake of your mental health. Jadi, yaa harus lebih cermat dan jeli lah dalam memelihara mental health kita sendiri.
Saya berpikiran seperti ini sekali lagi bukan berarti saya menganggap mental health tidak penting atau mental saya sudah sangat healthy wkwk bukan sama sekali. Saya juga masih sering miss dan lose, hanya saja mungkin saya hanya melihat dari aspek yang berbeda kali ini.
Lanjoot,
In brief, the overrated mental health issues is not the concerned mental health issues. How do you know if you have overrated your mental health? You are the one and only who know it. Sekali lagi ya, menurut hemat saya, dengan menanggapi masalah kesehatan mental dengan terlalu berlebihan yang ujung-ujungnya ternyata memberikan porsi yang jauh lebih besar untuk ego kita sendiri, maka hal itu bukanlah kesehatan mental yang sesungguhnya yang dimaksud, bukanlah masalah kesehatan mental untuk tujuan yang baik.
Saya percaya sekali, bahwa isu kesehatan mental ini penting, penting untuk menjaga bukan hanya fisik tapi juga mental. Mental health ini sangat tricky dan fragile sekali teman-teman, sangat tipis dan mudah pecah wkwkkw Jadi, jika mental kita sehat ketika mental orang lain sakit atau dengan kata lain, gegara kita ingin sehat secara mental maka kita menyakiti mental orang lain, maka saya kira, ada sesuatu yang janggal dan salah di sana.
Untuk teman-teman yang sudah membaca sampai akhir, terima kasih banyak. Mungkin setelah membaca ini, banyak yang berpikir ini seperti menganggap remeh mental health sendiri atau bagaimana, tapi coba diresapi dan direnungi dahulu. Satu hal bahwa, sejauh mana kita membawa isu mental health ini, apakah kita berlebihan menanggapinya atau sudah wajar dan sesuai porsinya, sekali lagi, hanya kita sendiri yang tahu. Bagaimana cara kita tahu? Yaitu dengan diam, merenung, berpikir. Tidak menolak, hanya melihat, selama ini kita gimana sih, apakah kita merenggut mental health orang untuk kesehatan mental kita sendiri? Tidak semudah itu memang, kita bukan manusia super yang bisa mengontrol setiap titik emosi kita, yang selalu harus menjaga perasaan orang lain. Bukan, bukan seperti itu. Kita ini manusia biasa, tidak luput dari khilaf dan salah. Hanya saja, ketika kita mulai menyadari, kita bisa lebih aware dengan diri kita dan dengan orang lain, dengan begitu kita bisa punya lebih banyak pilihan dalam menanggapi sesuatu termasuk kesehatan mental kita. Ini memang seperti omong kosong, tapi coba dulu, pelan-pelan kita bisa melihat dengan lebih jelas dari sebelumnya.
Mungkin, kali ini segini dulu, semoga bisa memberi insight yang baru yang tidak menyesatkan. Hopefully. Terima kasih semua.
Sampai ketemu di [tiga puluh lima],
Cheers,
Em 🙆