Sunday, 3 November 2019

[tiga belas] Waktu adalah Rasa

Time is not measured by clocks, but by moments
- Anonymous -
Halo teman-teman semua,
Finally, I come back after about 2 months hehee yup, blog ke tiga belas wkwk
Kali ini kita akan bahas tentang waktu, quite familiar, quite common topic, but let's see ..

I bet you guys, all of you, semua teman-teman yang baca ini pasti pernah merasakan ini, termasuk saya '1 jam serasa 1 menit', '5 menit terasa 5 jam', atau mungkin kalian pernah berpikir seperti 'duh, ini 10 menit terlama dalam hidup gue' iya gak sih?

Kalau kita ingat kembali waktu belajar fisika pas sekolah dulu, waktu adalah suatu besaran, bisa diukur mungkin dengan detik, menit, hari, tahun dan seterusnya. Kalau kita menghabiskan waktu 15 menit untuk menghabiskan semangkuk bakso maka meski di luar angkasa pun kita juga akan tetap menghabiskan waktu 15 menit. 15 menit adalah 15 menit, you can count it.

The other thing is, waktu tidak sesederhana itu, karena lebih seringnya kita mengukur waktu dengan perasaan. Membaca buku pelajaran selama 1 jam beda rasa lamanya dengan membaca novel 1 jam. Menghabiskan waktu dengan teman atau dengan pacar akan selalu terasa lebih cepat dibandingkan menghabiskan waktu belajar di kelas, meskipun dengan durasi yang sama. 

Waktu senantiasa demikian, dipengaruhi oleh perasaan.

Waktu adalah sesuatu yang mutlak, itulah mengapa stopwatch diciptakan. Tapi lebih dari itu waktu sangat relatif, karena perasaan manusia itu ada dan nyata. Mutlak tapi relatif, hmm cukup menarik.

Pertanyaannya, pernah kah kita benar-benar merasakan waktu? 

Setiap orang pasti punya jawaban yang berbeda-beda ketika ditanya '1 jam itu seperti apa?'. Karena setiap orang akan menjawab sesuai pengalaman 1 jam nya masing-masing. Tak bisa dibandingkan 1 jam seorang dan orang lain.

Karena waktu adalah rasa, seringkali perasaan terlalu jauh terlibat dalam masalah waktu. Mungkin tidak dialami semua orang, tetapi cukup sering kita mengomel, ngedumel, dan kategori sejenisnya untuk sesuatu hal yang berkaitan dengan waktu. 

Mungkin kita perlu belajar melihat waktu yang sebenarnya, mungkin perlu belajar mendengar detak jarum jam.

Mungkin topik kali ini agak kurang penting atau kurang relate dengan banyak orang, tetapi ada hal lain yang menurut saya bisa saya amati dari diri saya sendiri ataupun dari orang lain bahwa untuk sesuatu yang indah, nyaman, bahagia, waktu bukan menjadi masalah tapi untuk hal yang tidak nyaman, waktu bisa jadi menjadi masalah. Menonton drama korea dari pagi sampai pagi bukan masalah, bermain game sepanjang hari bukan masalah, tetapi belajar 1 jam saja menjadi masalah, mendengarkan orang berbicara selama 30 menit bisa jadi juga adalah masalah. 

Maka dari itu, mungkin kita perlu lebih adil dengan waktu, lebih merasakan waktu, merasakan 15 menit sebagai 15 menit, merasakan 2 jam sebagai 2 jam.

Agak absurd memang hahhaa mohon maaf 

Mungkin inti dari topik ini yang ingin saya sampaikan kurang tersampaikan, tetapi ya begitulah, jika nanti ada kesempatan dan bisa mendeskripsikan dengan lebih baik topiknya akan saya tulis lagi hehhee

Memang tak bisa dipungkiri, waktu lebih banyak diukur dengan rasa, but don't let the feeling takes all away. Kadang kita harus menerima untuk menunggu 15 menit, untuk mendengarkan 1 jam, untuk duduk diam 30 menit. 

If you get what I mean wkwkwk

Anyway, terima kasih teman-teman yang sudah membaca blog saya ini yang masih banyak kekurangannya, semoga bisa memberi insight positif. If you have any idea to discuss or any suggestions, feel free to drop in email at emilia.utomo@gmail.com, I'd be more than happy to share, thank you!

Sampai jumpa di [empat belas],
Cheers,
Em 🙆