Thursday, 27 April 2023

[tujuh puluh dua] sepatu

no matter how you imagine, the feelings will always be different unless you yourself experience it.

Halo lagi semua, hampir sebulan ternyata belum ngepost lagi wkwkw

Kali ini mau cerita-cerita soal penempatan diri dan empati, dimana kedua hal ini erat kaitannya dengan istilah "menempatkan diri pada sepatu orang lain". Tapi, setelah saya pikir-pikir lagi, sepertinya sulit memang. Memahami kondisi atau situasi orang lain, dimana kita belum pernah merasakan atau mengalami, entah bagaimana membayangkannya, kalau kita belum merasakan langsung tetap saja akan berbeda. Kasus yang sama pun, bisa jadi rasanya berbeda, karena banyak faktor yang terlibat di dalamnya.

Sebenarnya tidak cuma sepatu sih wkwkwk makanan juga bisa, tapi sepatu mungkin yang paling sering kita dengar, jadi judulnya itu saja hahha 

Menjelaskan apa yang kita rasakan kepada orang lain yang belum pernah berada pada kondisi yang sama, sama seperti menjelaskan rasa coklat kepada orang yang belum pernah memakan coklat. Seberapa deskriptif pun, tidak akan bisa benar-benar menjelaskan rasanya. Rasa manis tapi bukan manis gula. Rasa creamy tapi bukan seperti susu. Susahlah hahahhaa 

Langsung mi saja ke kesimpulan nah hahahaa

Intinya yang saya pikir adalah di satu sisi, ketika ada sesuatu yang terjadi kepada orang lain di sekitar kita, berusahalah menempatkan diri pada sepatu orang itu, berusahalah sedekat mungkin merasakan kondisinya, sedekat semirip mungkin yang kita bisa. Ber-empati. Tujuannya apa? Supaya reaksi kita tidak keliru. Tidak melihat sepatu orang lusuh lalu mengungkapkan kata-kata yang kurang tepat tanpa tahu kenapa sepatu itu lusuh, tanpa tahu kenapa orang mempertahankan sepatu lusuh itu, tanpa tahu bagaimana sih rasanya memakai sepatu yang lusuh itu. Berusahalah lebih bijak. Tidak menyepelekan. Karena we've never been on their shoes. Di sisi lain, ketika kita merasakan sesuatu, dan orang lain tidak bisa memahami dengan baik. Juga pahamilah, terimalah, karena orang lain tidak pernah benar-benar bisa merasakan apa yang kita rasakan. Berdamailah. Kita tau itu dan menerima itu, sehingga hati ini bisa lebih lapang. Tidak merasa bahwa tidak ada orang yang memahami kita, tapi tau bahwa orang-orang sudah berusaha. Ketikapun ada kata-kata yang kurang menyenangkan, ingatlah mungkin mereka tidak tau. Mereka mungkin sudah berusaha and that's enough.

Demikian guysss postingan singkat ini. Sehat-sehat semuaaa.

Sampai ketemu lagi di [tujuh puluh tiga]

Cheers,

Em🙆

Monday, 20 March 2023

[tujuh puluh satu] bertanya

malu bertanya sesat di jalan

peribahasa andalan waktu SD

Halo teman-teman semua, aku kembali lagi wakwaww wkwkwk sebenarnya sudah ada postingan lain yang seharusnya mengisi slot ke tujuh puluh satu ini, tapi karena ide ini kayaknya lebih sat set sat set di otakku, jadi saya tulis duluan hahahha

Lanjotttt, hari ini obrolannya perkara bertanya dan ditanya wkwkwk 

Agak unik perkara satu ini menurut saya, setelah diamat-amati dari berbagai kejadian kadang-kadang bikin senyum-senyum juga hahahaha

Mau cerita sedikit satu kejadian yang cukup membekas di kepala sampai sekarang terkait perkara bertanya. Waktu itu saya masih SD, so lupa SD kelas berapa tapi kayaknya 5 atau 6 lah ya, matematikanya sudah lumayan susah waktu itu (tapi tdk ada hubungannya kasian wkwkw). Ya, jadi waktu itu saya lupa tepatnya perkara apa, tapi sesuatu yang mengharuskan saya masuk ke dalam ruang guru dan menanyakan sesuatu ke wali kelas saya. Waktu saya SD itu, entah kenapa dan bagaimana, sepertinya bertanya baik di kelas maupun di luar kelas itu bukan sesuatu yang lumrah, membuat orang malu-malu bertanya, which is jelek. Di tambah lagi, masuk ke ruang guru itu kayak masuk ke rumah hantu, angker, horor. Kalau kita masuk ke ruang guru, kita kayak jadi Miss Indonesia, semua mata tertuju padamu wkwkwkw. Tapi benar, semua guru pasti langsung lihat ke arah kita, kadang-kadang juga digangguin (mungkin bukan digangguin sih, tapi kayak ditanya-tanya begitu, jadi takutlah kita). Biasalah guru-guru yang lucu-lucu. Nah, waktu itu saya dan teman saya saling dorong siapa yang mau masuk, sampai saya bepikir, kenapa kita setakut ini ya, kita kan cuma mau bertanya, kita tidak berbuat salah, kenapa kita harus takut. Akhirnya, entah keberanian darimana, saya memutuskan untuk masuk. Ketuk pintu, permisi, masuk, bertanya, selesai, keluar. Alhamdulillah, masih hidup wkwkkw

Pertanyaannya adalah, kenapa, sampai sekarang, kita masih suka takut bertanya?

Memang pada kenyataannya tak bisa dipungkiri bahwa perkata bertanya, ditanya, menjawab dan dijawab itu tidak sesederhana itu. Melibatkan begitu banyak faktor. Perasaan, emosi, konteks, pertanyaan ngambang, pertanyaan salah sasaran, ataupun pertanyaan yang tidak pada tempatnya. Tidak heran, jika dari satu pertanyaan bisa melebar ke entah diskusi ataupun cekcok. Padahal, kalau diliat kembali, itukan cuma bertanya. Apa yang seyogyanya dilakukan jika ada yang bertanya? Ya, dijawab. Sesederhana itu wkwkwk

Dalam hal pekerjaan, paling sering, kita takut bertanya, ataupun ketika kita diberi pertanyaan, perasaan dan emosi terbawa-bawa. Tentu tidak salah, namanya juga manusia. Maka dari itu, baik dari sisi penanya maupun yang ditanya sama-sama membutuhkan kebijaksanaan dan skill yang disebut kesabaran. Pada dasarnya orang bertanya pasti ada tujuannya. Kalau tidak bertanya nanti sesat di jalan wkwkwk. Tapi ya begitulah, jika kita sebagai penanya kita butuh kebijaksanaan dalam bertanya, jika kita sebagai yang ditanya maka butuh kebijaksanaan juga dalam menjawab.

Jadi, selama ketakutan kita untuk bertanya itu didasari oleh hal-hal yang tidak jelas, dan tujuan kita bertanya juga jelas, sudah dipikirkan baik-baik, maka tidak ada salahnya kita bertanya. Begitupun, ketika kita menjawab, seaneh atau sebodoh apapun pertanyaan itu, namanya juga bertanya, hanya perlu dijawab wkwkkw. Tidak usah marah atau terbawa emosi karena mungkin yang bertanya juga tidak tau dampak dari pertanyaan yang dilemparkan itu wkwkkw sulit memang tapi itu salah satu cara supaya kita tidak terlumat oleh hal-hal yang tidak terlalu penting. 

Perkara tanya-tanya ini memang kadang-kadang agak lucu. Kalau bertanya saja takut, agak sedih rasanya, karena salah satu cara kita bisa memperoleh pengetahuan adalah dengan bertanya.

Sekian komat kamit saya hahahhaaa 

Takde intiii, begitu sajaaaa

Bye byeeee, sampai ketemu di [tujuh puluh dua] yaaa

Cheers,

Em🙆

Wednesday, 8 February 2023

[tujuh puluh] what people like, what people don't like

Suka dan tidak suka, lumrah, namanya juga manusia

Kadang-kadang saya suka berpikir kenapa ya orang tidak suka ini, kenapa orang tidak suka itu. Padahal ini kan begini dan itu kan begitu. Kenapa berpikir demikian? Apakah saya tidak punya hal yang tidak saya sukai? Punya juga, tapi  mungkin suka lupa wkwkkw

Padahal kalau dipikir-pikir, mungkin saya tidak suka makan hati (arti harfiah yaitu organ pada hewan yang bisa dimakan wkwwk) sama dengan orang lain tidak suka jalan kaki. Atau saya (sangat) suka diam di kamar, sama dengan orang lain yang (sangat suka) K-Pop. Objek bisa berbeda, tapi rasanya sama. 

Tidak harus apa yang kita suka, orang lain juga suka.
Tidak harus apa yang orang lain suka, kita juga suka.
Pun, tidak harus apa yang kita tidak suka, orang lain juga tidak suka.
Tidak harus apa yang orang lain tidak suka, kita juga tidak suka.
Begitu loh mil wkwkwk

Bingung mau nulis apa, kok gitu ya, padahal pas mikir lancar, pas mau nulis bingung hahhhaaa kek mana lah

Lanjut, oh iya, pernah baca di suatu buku, kalau orang itu bisa terbagi menjadi 2, *saya nyontek dulu ya wkwkw*, jadi, ada dua jenis mentalitas (disorders of responsibility namanya, baca dari buku The Road Less Traveled, minjem punya temen, belum habis dibaca wkwkwk tidak penting ya infonya hehhee). Yang pertama namanya neurosis disorder yaitu kecenderungan menyalahkan dirinya sendiri atas suatu kondisi atau konflik. Yang kedua namanya character disorder yaitu kecenderungan menyalahkan "dunia" atau pihak luar atas suatu kondisi atau konflik. 

Kenapa bahas itu?

Memang tidak berkaitan langsung dan konteks pembahasannya berbeda, tetapi menurut cocoklogi sotta saya, respon (atau entah apalah namanya) terhadap apa yang kita suka dan apa yang kita tidak suka itu biasanya mirip-mirip dengan disorder itu. Maksudnya adalah, misalnya ketika kita tidak suka sesuatu, we tend to put the blame on that thing. Ketika kita tidak suka 'itu', berarti 'itu' yang salah. Misalnya, saya gak suka K-Pop karena si boyband/girlband Korea nya tuh bgini bgini, karena lagunya tuh begini begini. Tapi, ndak pernah atau jarang sekali misalnya saya bilang saya gak suka K-Pop karena saya nda tau main musik atau karena saya telinganya lain daripada yang lain wkwkkw Iya nda sih? Tapi, kalau kita suka sesuatu, kita ini yang benar. Misalnya, saya suka main game karena gamenya seru, menantang, dll. Kalau orang gak suka, salahnya di orang itu, bukan di game atau di sayanya. Bagaimana ya hahaha bingung mendeskripsikannya heuheuheuuu. Nanti coba kupikir lagi ya hahahhaa maksudnya tuh bisa se-beda itu kecenderungan sudut pandangnya ketika kita suka atau tidak suka. Padahal kita membicarakan sesuatu dalam konteks yang sama dan sepadan tapi kita bisa beda. Cenderung ya berarti gak selalu dan gak semua. Ini menurut saya saja atau setidaknya yang sering saya pikirkan wwkwkw. 

Ya begitulah, abaikan saja kalau bikin bingung pemirsa hahahaa

Seperti saya tulis pada kalimat pertama, rasa suka dan tidak suka itu lumrah dan manusiawi. Kita masih manusia dan kita masih di dunia, pasti ada hal yang kita suka dan ada yang kita suka. Kita selalu mencari yang kita suka, menghindari yang kita tidak suka. Mencari tempat makan yang menyediakan lebih banyak makanan yang kita suka daripada yang tidak kita suka. Mencari tempat kerja yang lebih banyak hal yang kita suka daripada yang kita tidak suka. Dan seterusnya.

Pada dasarnya, kita semua dalam pencarian, yang tiada akhir. Mencari yang kita suka, menghindari yang kita tidak suka. Tanpa kita sadari, kita hanya akan terus mencari. 

Mengapa?
Karena, kita masih di dunia, tidak mungkin ada yang suatu hal yang kita suka tanpa didampingi dengan yang tidak kita suka. 
Karena, bisa jadi, apa yang kita suka hari ini, menjadi apa yang kita tidak suka nantinya. Dan juga, bisa jadi, apa yang kita tidak suka hari ini, menjadi apa yang kita suka nantinya.

We commonly say people do change, tapi tanpa sadar ditujukan ke orang lain. Padahal, we are people, too. We do change, too. Bisa jadi bukan karena objeknya yang berubah, tapi karena kitanya yang berubah. Rasa suka, tidak suka, terlalu dinamis wkkwkw dan pastinya, selalu ada. Namanya juga hidup wkwkkww

Ujungnya? Cuma dua mungkin, menemukan yang kita suka, atau menyesuaikan dengan apa yang ada (biasanya sih lebih ke yang tidak suka).

Kenapa di awal saya bilang saya suka berpikir kenapa orang bisa tidak suka ini dan itu? Mungkin seringnya saya memilih menyesuaikan daripada mencari dan menemukan. Malas sih lu mil wkkwkwk. Mungkin itu sekarang, nantinya tidak ada yang tau. 

Suka dan tidak suka, toh hanyalah perasaan, bukan kebenaran.

Apa konklusyen? Takde konklusyen wakwakwak.

Cuma ingin berbagi pikiran saja. Tarik sendiri saja kesimpulannya. Kalau ga bisa ditarik, mungkin tulisannya PUSH. Hehehee. Dah yaaaa wkkwkw

Sampai ketemu di [tujuh puluh satu],

Cheers,

Em🙆

Saturday, 4 February 2023

[enam puluh sembilan] the impermanence, it is

It was a very very good day, with a very good good plan, and in a very moment, everything change. That's the impermanence. 

We are (I am) a naive human. Coming up with thousand of plans, which is kinda normal. But, at some certain point, we are blind. Blind with something that might happen, something unexpected. However, that's again, the impermanence.

You know what, in a very very eazy peazy way, life can turn you upside down. Karma happens every single moment in our life. Each and every moment. Moment by moment. Good and bad things happen. 

Born, sick, aging, death, are absolute things in life. And after a fine morning with hot porridge and good laugh, here comes a kinda rough afternoon with back pain that comes unexpectedly but fortunately, still with good food wkwkwkw

All these things, again, make me think, (but still not making me realize), how easy, really, things change. Now and then, can be a totally different condition. And how human beings, we are, I am, are easily broken. Sick makes us not able to do anything. Even small things sometimes. 

Impermanence is real, kicks you in the ass, you know it, but not yet realize it.

It's the truth. 

Berjuang.

See you at [tujuh puluh]

Cheers,

Em🙆

Sunday, 15 January 2023

[enam puluh delapan] jebak

Kalau bicara masalah jebak-menjebak-dijebak-terjebak, siapa sih yang suka terjebak atau dijebak dalam jebakan? kwkwkwk mungkin tidak ada, tapi mungkin banyak yang suka menjebak orang lain hahahaa

Tapi, ada satu jebakan, yang kadang-kadang kita suka ga sadar kalau kita terjebak, malah terbuai. When you think you're enough, you are trapped!

Lagi malas nulis euy, jadi pendek-pendek aja lah yaa wekwekk

Intinya kadang-kadang kita tuh merasa udah bagus, mungkin memang udah bagus, tapi dunia berputar men, semua  bergerak secara dinamis, orang-orang belajar, teknologi berkembang, sebagus apapun kita saat ini, pasti akan ada yang lebih bagus. Kata lainnya mungkin comfort zone yaa, cuma uniknya adalah kita gak sadar, terlena dengan 'kebagusan' kita, padahal orang-orang juga berlomba menjadi bagus.

Mengapresiasi apa yang kita raih itu satu hal, tapi berupaya untuk terus berusaha itu hal lain juga.

Jadi, begitulah ya, jangan mau dijebak ataupun terjebak guys hahaha
Semoga kita bisa terus berupaya untuk berubah (menjadi lebih baik), karena dunia terus bergerak dan berubah, and we really need to adapt to it.

Semangat! (kalau gak semangat pun gak apa-apa).

See you at [enam puluh sembilan]

Cheers,
Em 🙆

Sunday, 1 January 2023

[enam puluh tujuh] thank you 2022, it's a wrap!

yesterday I said, tahun baru itu hanyalah pergantian hari yang sama seperti hari lainnya hehehe

Selamat taun baru gaissss, semoga resolusi, harapan-harapan, doa-doa semua bisa terwujud.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, sejak kecil sampai sekarang, pergantian tahun dilewati dengan di rumah saja. Mendengar riuh kembang api dan petasan dari dalam kamar, melihat ramainya kerumunan orang di jalan lewat televisi, kalau sekarang lewat ig story heheee. Masih ingat, waktu kecil pengen juga kalau malam tahun baru ngapain gituu, tapi kayaknya (sejauh ingatan saya wkwk) malam tahun baru selalu di rumah, belakangan ini di kos sih wkwkkw paling keluarnya tuh di sore atau malam tapi tidak pernah sampai pergantian tahun nya. Tapi, untungnya, saya cukup menikmati sampai sekarang malam tahun baruan di rumah saja, melihat jam berpindah dari 23.59 ke 00.00, dari penanggalan 31 Desember menjadi 1 Januari, kemudian tidur wkwkwkw

Setelah dipikir-pikir beberapa tahun belakangan, bahwa, sepertinya, tanggal 1 Januari itu, hari pertama dalam setiap tahun, sesungguhnya tidaklah beda dari hari-hari lainnya. Sebagaimana hari Sabtu berpindah ke hari Minggu dan seterusnya. In that case, menurut saya, nothing should be really special for that day. Karena memang demikian adanya, pagi harinya, keesokan harinya, hidup terus berlanjut, tetap bekerja, mencari nafkah dan seterusnya. Tahun baru tidak membuat kehidupan kita berubah 180 derajat, tidak membuat kita mendadak kaya atau mendadak sukses. Secara kehidupan, tanggal 1 Januari is just another day to live. So, in this basic, it shouldn't be any different to other days.

Tapi, di sisi lain, tidak bisa dipungkiri juga bahwa tanggal 1 Januari itu menandakan sesuatu. Dalam pelajaran astronomi, pergantian tahun menandakan kembalinya Bumi ke titik awal dalam orbitnya mengelilingi matahari. Kemudian saya berpikir, kalau Bumi itu tidak mengelilingi matahari maka gak ada lho tahun baru itu hahahaa soalnya bergeraknya lurus-lurus saja wkwkw itulah yang terjadi secara sains, bahwa jangka waktu perputaran Bumi mengelilingi matahari ditandai dengan 1 tahun atau 365 hari (lebih tepatnya 365 1/4 hari). Asumsinya, tahun 2023 menandakan bahwa ini sudah yang ke 2023 kalinya Bumi kembali ke titik awal revolusi nya (tentunya jauh jauh lebih yaa dari 2023, sudah tak terhitung karena awal Bumi berputar kan tidak diketahui ya wkkww). Penandaan ini lah yang membuat 1 Januari atau setiap tanggal tidak lah dilihat dengan cara yang sama.

Kedua sisi yang berbeda di atas tentu sama benarnya. Tanggal 1 Januari, tahun baru, itu sama dengan hari yang lain tapi pun ada bedanya. Tergantung cara pandangnya. 

Dibanding melihat tahun baru sebagai sebuah perayaan (saja), sepertinya saya cenderung melihatnya sebagai sebuah momentum untuk refleksi. Mungkin ibaratnya kita dalam sebuah perjalanan, tahun baru ini seperti lampu merah, atau penanda kilometer di jalan tol, ataupun rambu lainnya. Tanda ini membuat kita bisa berhenti sejenak untuk melihat sejauh apa kita sudah berjalan, hal-hal apa yang sudah dilewati, kira-kira apa yang ada di depan yang akan kita hadapi dan apa yang akan kita lakukan alias resolusyen. 

Jadi, dengan adanya tahun baru ini, menjadi satu momentum, untuk bisa berhenti, melihat, merenung, berpikir. Bersyukur apa yang sudah diperoleh dijalani sejauh ini, menyusun apa yang bisa dilakukan ke depan. Tapi, satu hal yang selalu berusaha untuk saya ingat, dibanding dulu dan sekarang, momen sekarang lebih penting. Hal yang dulu disyukuri saat ini, rencana ke depan hanya bisa terjadi jika dilaksanakan saat ini. 

For me personally, I'd rather see new year as a unique momentum, every year, to reflect, in silence in my room wkwkwk (dasar intropert). Merayakan tahun baru secara 'cukup', sepertinya lebih menjadi preferensi saat ini dan mungkin ke depannya juga. 

I believe, people have their own way to "celebrate" new year which always always full of gratitude for the previous year and good wishes for the welcoming year.

It's been a wonderful ride in 2022 and it's a wraaaaaaaaap!! Thank youuuu!! Many many many good things happened in my 2022 life. New job, new friends, new city, adding more laughs and experiences, made my flat life become more colorful. Really thankful and grateful for everything.

I want to say 'welcome' to 2023, it's gonna be another amazing year, and I want to say 'be kind, be wise, be mindful' to myself. 

All the things accumulated throughout the years in life take a small but important part like one piece puzzle that complete the whole picture.

See you at [enam puluh delapan]

Cheers,

Em 🙆

Sunday, 11 December 2022

[enam puluh enam] happy birthday super boss

wishing you the happiest birthday our super boss

Talking about parents and children relationship, we didn't choose our parents, they didn't choose us as their children either. So, I think it's another unique relationship that exists in this world wkkww

As people say, as we grow bigger, our parents are getting older, too. So, setelah hidup sekian tahun, today I'd like to say some sentences for my beloved boss, the most discipline person ever in the family. He is absolutely not perfect, but he has almost all the good things in life, hard work, persistent, logic, totalitas tanpa batas, and berpegang erat pada prinsip hidup, one of them is honesty. He always said that kalau kita jujur, kemanapun kita akan merasa aman. He also said tidak apa-apa hidup sederhana, yang penting kita tidak punya utang dengan orang lain, kita bisa hidup tenang dan nyaman. Those words are simple yet so true. Oh iya, he doesn't only put it in words, but also in his life. So, I think that's how we, or especially for me, learnt practically from him, not only just listen to what he said, but also see how he put in actions. 

I would say that I am extremely grateful to be in this family. A lot of life lesson learnt until now, like I said not only nasehat-nasehat, but I see it in our daily life. Oh iya, talking about parents too, there is a tendency that the older our parents, the more difficult that children can handle them, which can create some conflict in this unique relationship. However, untungnya, as I said that he is the most discipline person ever, so he know and fully aware on his own health. So, kalau biasanya anak-anak agak membatasi orang tua makan manis dsb khususnya kalau ada diabetes (actually I saw this on my grandma, she loved sweets but she had diabetes, jadi ya begitulah), but in the case of this man, he is fully aware about everything. I think one of his life principle really works yaitu tidak mau menyusahkan orang. That is one thing that I really admire about him. 

Nobody's perfect, he used to get angry easily (sekarang sudah tidak wkwkww), tidak suka menunggu (karena sangat sangat on time), tidak suka ribet, doesn't like mistakes wkwkkw. Introvert man, tidak suka kumpul-kumpul wkkwkww

Don't want to get this longer, life is not easy for him, he didn't get proper education, but how he is able to get his children to higher education (2 kali wisuda for each) is superb. He also said this frequently "We, parents, doesn't have a lot of things to give you guys, but what we can give is education. Education will make your life better". He has gone a lot of things in life, he has reached this point, it's time to slow a little bit, good man. His love for family is not in words, but in actions. 

It's his belated birthday, but I wish him long life, good health, and  happiness. Thank you for everything.

One closing statement, a sentence from him yang menurut saya cukup fenomenal wkwkw "if you have a boyfriend/girlfriend, don't love him/her 100%, but whenever he/she becomes your husband/wife, you must give your family your 100%". Applause wkkwkw

Cheers for my super boss,

See you at [enam puluh tujuh]

Em🙆

Sunday, 4 December 2022

[enam puluh lima] motivasi, inspirasi, dan urgensi

you can be motivated or inspired enough to start something, but you'll never be motivated nor inspired enough to maintain something, you need much more than that

Akhirnya satu draft lama terpost juga kwkwkw

Anyway, nulis ini karena dulu pernah ikut beberapa seminar-seminar motivasi termasuk nonton di metro TV acaranya bung Mario Teguh wkwkwk tapi sekarang ini udah jarang ya ada begitu-begitu, di youtube dah banyak kalau mau nyimak.

Tapi, hari ini bukan mau menulis tentang acara seminar motivasi itu wkwkwk

Jadi, dulu setiap selesai ikut seminar motivasi atau nonton di televisi atau melihat orang yang sukses misalnya, pasti saya jadi semangat, wah saya akan begini, aplikasikan ini dan itu, liat orang pakai metode ini dan berhasil jadi ikut juga, dan lain sebagainya. Tapi, ternyata itu tidak berlangsung lama, begitupun kalau terinspirasi dari orang lain, sama saja. Setelah beberapa waktu semangatnya jadi kendur, tidak bisa konsisten. Begitu terus berulang.

Lama kelamaan menjadi tahu kalau motivasi dan inspirasi itu faktor eksternal dari luar yang mendorong kita melakukan sesuatu, tapi untuk bertahan di track itu tentu butuh yang lebih besar dari itu yaitu faktor internal. Sama seperti yang biasa orang bilang, mustahil untuk mengubah seseorang, kecuali perubahan itu datang dari diri nya sendiri. Tidak ada faktor eksternal apapun yang demikian kuat untuk mengubah seseorang jika dari dalam dirinya tidak ingin perubahan itu terjadi.

Satu hal lain yang mungkin bisa lebih tinggi daripada motivasi atau inspirasi itu menurut saya adalah urgensi, itupun sudut pandang nya harus diubah, yaitu ketika kita memang melihat itu adalah sesuatu yang sangat penting, genting, dan mendesak. Dengan begitu, kita akan sadar dan membuat kita memulai dan bertahan dalam melakukan sesuatu. 

Sejauh ini, masih yakin dengan hal ini, oleh karena itu, faktor internal yang berusaha untuk dibangun (meskipun sulit yee wkwkw) tapi setidaknya diusahakan dulu hahaha caranya mungkin dengan analisa, berpikir, merenung, seperti biasa kwkkwkw melihat ini penting ndak, ini urgen ndak, arahnya ke mana, pengaruhnya ke mana, caranya bagaimana, dan lain-lain, dengan begitu akan lebih terarah dan lebih bisa di-maintain. Selama belum tuntas, maka pasti suatu tindakan sulit dipertahankan.

Begitu kali ya, masih bingung juga sih, sekadar catatan saja, mungkin suatu hari bisa berubah, selain itu juga selalu  mengingatkan untuk melihat ke dalam untuk apapun itu, karena apapun siapapun tidak bisa membuat dorongan yang begitu kuat seperti dorongan dari dalam diri.

Tapi bukan berarti juga motivasi dan inspirasi itu tidak dibutuhkan, itu bisa saja jadi trigger tapi penentunya selalu dari dalam. Motivasi dan inspirasi itu seperti bahan kita untuk mengolah, menganalisa, berpikir. Kalau tidak ada motivasi dan inspirasi dari luar juga kadang-kadang kita bingung kan ya mau mulai dari mana wkwkwk

So we need both, motivasi dan inspirasi itu ibaratnya bahan bakar untuk kendaraan, tapi motor atau mobilnya itu gak mungkin bisa jalan kalau starternya tidak dinyalakan, gasnya tidak dinaikkan. Starter dan gasnya ini harus dari dalam sehingga bisa terus berjalan sampai di seberang wkwkwkwk

Tidak perlu juga menyalahkan faktor luar kalau ada sesuatu yang tidak bisa kita pertahankan usahanya wkkwkw karena memang intinya bukan di situ. Dalam hal inspirasi dari orang lain, mungkin apa yang orang alami belum tentu kita alami, atau memang kita nya saja yang belum cukup trigger dari dalamnya wkwkwkw

Semangat untuk diriku dan semua orang untuk apa yang sedang diusahakan yaaakkkk

Sampai ketemu di [enam puluh enam],

Cheers,
Em🙆